Bantu Mereka Bertahan Ditengah Musim Dingin Ekstrem

Pilih Nominal Donasi

  • Rp 1.371.300 Tercapai
    dari Rp 500.000.000
 

Musim dingin tahun ini tiba bersamaan dengan luka yang belum sembuh. Bagi jutaan warga Gaza yang terusir dari rumahnya, dingin bukan sekadar suhu rendah, tetapi ujian hidup dan mati.

Esraa Kamal, ibu muda yang 8 bulan mengandung, terpaksa mengungsi setelah rumahnya dibombardir. Dia berjalan lebih dari 3 kilometer hanya dengan membawa beberapa kaos tipis, yakin keadaan akan segera reda. Dua bulan kemudian, Esraa melahirkan putrinya di dalam tenda terpal tipis, tanpa selimut hangat, tanpa pakaian bayi, tanpa penghangat.

Saat hujan pertama mengguyur kamp pengungsian, air menembus tenda dari segala arah. Bayinya menggigil dan tidak bisa dibawa keluar untuk menghangatkan diri karena asap kayu membuatnya sesak napas.

“Sudah beberapa kali tubuhnya membiru karena batuk asap… kami takut dia tidak bertahan,” ucap Esraa dengan suara bergetar.

Putri mereka memakai satu pakaian bayi yang sama sejak lahir. Ketika kotor, hanya bisa dilap karena tidak ada pakaian pengganti untuk dicuci.

 

Suhu rata-rata Januari di Gaza hanya sekitar 8°C, angin laut dan hujan lebat membuat dingin semakin menusuk. Tapi bagi para pengungsi, tidak ada jaket, tidak ada selimut, tidak ada pemanas. Mereka tidur berhimpitan setiap malam agar tubuh tidak membeku.

Banyak keluarga terpaksa menebang pohon zaitun berusia puluhan tahun — sumber pangan dan mata pencaharian — hanya untuk menyalakan api, karena bahan bakar, listrik, dan gas hampir tidak ada.

 

Anak-anak adalah korban paling rentan.
Bagi tubuh yang kekurangan gizi, batuk, pilek, dan flu bukan penyakit ringan — tetapi ancaman mematikan. Rumah sakit kewalahan, obat-obatan habis, banyak pasien hanya bisa pulang tanpa perawatan.

Seorang dokter di Gaza menjelaskan:

“Yang bagi kita hanya batuk dan pilek, bagi anak-anak di sini bisa menjadi vonis kematian.”

Kelaparan memperparah keadaan.
Ada hari-hari ketika keluarga tidak makan apa pun. Para ibu tidak mampu menyusui karena tubuh kekurangan nutrisi. Untuk menghangatkan air bagi bayi, mereka membakar plastik dan kertas — berbahaya, tapi tidak ada pilihan lain.

Toilet pun menjadi masalah besar. Pengungsi harus mengantre berjam-jam dalam udara dingin. Lumpur bercampur limbah mengalir di jalanan. Risiko penyakit meningkat setiap hari.

“Kami tidak takut miskin… kami hanya takut kehilangan anak-anak kami karena dingin,” ujar seorang ayah yang sudah sebulan tidak mandi karena tak ada akses air hangat.

Dan para relawan di Gaza memperingatkan:

“Musim dingin belum mencapai puncaknya. Yang terburuk belum datang.”

Kita Tidak Bisa Menghentikan Musim Dingin

Tetapi kita bisa menghentikan seseorang meninggal karena kedinginan.

Bantuan darurat yang dibutuhkan saat ini:

  • Makanan Siap Santap
  • Selimut musim dingin tebal
  • Jaket & pakaian hangat anak-anak
  • Alas tidur & matras
  • Pemanas portabel & bahan bakar
  • Paket nutrisi bayi & susu formula

Setiap bantuan sekecil apa pun bisa menjadi kehangatan pertama yang mereka rasakan sejak perang dimulai.

Mari hadir sebagai cahaya di tengah gelapnya musim dingin Gaza.
Mari kirimkan bantuan sebelum tubuh kecil mereka menyerah pada dingin.

Jadilah yang pertama menjadi Inisiator Kebaikan untuk meringankan beban saudara kita di sana

Jadilah yang pertama menjadi Inisiator Kebaikan untuk meringankan beban saudara kita di sana

Bagikan Galang Dana Ini :
Scroll to Top