Pewakaf Al-Qur’an Meraih Pahala yang Tak Pernah Terhenti

Implementasi Program Wakaf untuk santri di pelosok (Foto : Dok. Insani)
Bagikan

Halo sahabat #inisiatorkebaiakan, kata wakaf mungkin tidak asing lagi bagi para sahabat sekalian, karena kata dan kegiatan wakaf itu sendiri sangatlah mudah di temukan di sekitar kita. Namun seringkali masyarakat memahami wakaf adalah kegiatan amal kebaikan berupa menyerahkan tanah kepada pengelola tanah wakaf agar digunakan untuk kepentingan orang banyak, dengan tujuan mengharap ridho Allah Subhanahu wata’ala dan mendapatkan pahala yang terus mengalir sampai hari kiamat. 

 

Dalam artikel kali ini kami akan menyuguhkan kepada sahabat #inisiatorkebaikan tentang wakaf yang lebih mendalam dan tentunya sahabat akan banyak menemukan informasi terbaru tentang pelaksanaan wakaf,  bahwa wakaf tidak hanya dengan tanah atau real estate saja. Namun sebelum membahas tentang wakaf yang lebih mendalam, mari kita menjelajah sejenak jejak sejarah di zaman Rasulullah dan para sahabat tentang wakaf. 

 

Wakaf adalah Amalan Rasulullah

Baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam adalah orang pertama yang menawarkan wakaf sebagi solusi agar seorang hamba Allah Subhanahu wata’ala dapat menjadi hamba yang bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Dalam hadits yang di riwayatkan oleh  Umar bin Syaibah dari Amr bin Sa’ad bin Mu’adz: “Kami bertanya tentang siapakah pewakaf yang paling pertama kali melakukannya?”

 

Orang-orang Anshar menjawab, “Wakafnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pada saat itu Rasulullah tiba di Madinah sudah mewakafkan masjid Quba’ atas dasar ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dan wakaf untuk kedua kalinya, Rasulullah mewakafkan masjid Nabawi. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya di antara amal saleh yang mendatangkan pahala setelah orang yang mengamalkannya meninggal dunia, yaitu;

Ilmu yang disebarluaskan olehnya

Anak saleh yang ditinggalkannya

Mushaf (alquran) yang diwariskannya

Masjid yang dibangunnya

Rumah yang didirikan dengan tujuan dijadikan sebagai tempat bermalam (penginapan) orang yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil)

Sungai (sumber air) yang dialirkan guna kepentingan orang banyak, 

Harta yang disedekahkannya (HR. Ibnu Majah).

Dari rangkaian amal jariyah yang tertera dalam redaksi hadits nabi tersebut, meletakkan wakaf Al-Quran pada urutan ke-3 setelah mencetak seorang anak menjadi generasi yang sholeh yang bermanfaat untuk agama dan seluruh umat manusia.

Pewakaf Al-Qur’an Meraih Pahala yang Terus Mengalir

Al-Qur’an adalah perkataan Allah Subhanahu wata’ala yang duturunkan kepada nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam melalui malaikat Jibril alaihissalam secara berangsur-angsur dan membacanya bernilai ibadah (mendapatkan pahala). 

Dalam hadits yang di riwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: 

من قرأ حرفا من كتاب الله فله حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول الم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Quran maka baginya satu pahala, dan satu pahala itu dilipat gandakan menjadi sepuluh pahala. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR At-Tirmidzi).

Di dalam Islam seseorang yang memberikan contoh kebaikan pada orang lain lalu orang lain tersebut mengikuti perbuatan baik yang dicontohkan olehnya, maka sang pemberi contoh akan mendapatkan pahala sebagai mana pahala yang didapat oleh pelaku kebaikan tanpa mengurangi pahala pelaku kebaikan itu sedikitpun. 

Jika sahabat #inisiatorkebaikan mewakafkan Al-Quran lalu penerima wakaf tersebut senantiasa membacanya, mentadaburi ayat demi ayat yang terkandung di dalam Al-Quran, lalu ia menjadi hamba yang bertakqwa yang selalu mengamalkan kebaikan seumur hidupnya, maka sepanjang itu pula seorang pewakaf Al-Quran mendapatkan pahala yang sama seperti  pahala  yang didapat oleh penerima wakaf Al-Quran tersebut. Inilah kon sep dari amal jariyah yang pahalanya tidak terputus hingga hari kiamat. 

Jadi jangan pernah ragu untuk berwakaf ya sahabat #inisiatorkebaiakan, apalagi untuk sahabat yang sibuk bekerja dan tidak memiliki waktu luang untuk mempelajari Al-Quran lebih mendalam. Namun sesibuk apapun sahabat  harus tetap meluangkan waktu untuk  membaca Al-Quran. Sahabat bisa membantu orang lain membaca Al-Quran dengan hasil kerja sahabat yang diwakafkan untuk membeli Al-Quran. Dengan begitu sahabat akan mendapatkan pahala orang-orang yang membaca dan mengamalkan Al-Quran yang diwakafkan tersebut.

Bagikan
Saksikan Video Dibawah Ini :
"Lawan Corona: Bantu Mereka yang Belum Bisa #dirumahaja"
Scroll to Top