Hujan yang sesekali datang tak lagi membawa kehidupan. Tanah karst tidak mampu menyimpan air, dan sumur warga perlahan kering. Di bawah terik matahari yang menyengat, masyarakat terus berjuang hanya untuk meneguk seteguk air bersih.
Di salah satu dusun di Kecamatan Ponjong, tim Insani Indonesia berbincang dengan warga setempat. Seorang ibu berkata dengan lirih, “Meskipun hujan sudah turun, air tetap sulit, Mas. Tanah di sini tidak bisa menyimpan air”. Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa getirnya kenyataan hidup mereka. Hujan yang biasanya menjadi berkah, kini hanya menjadi pengingat bahwa harapan mereka belum benar-benar datang.
Data dari BPBD Gunungkidul mencatat bahwa lebih dari 24 ribu jiwa di 10 kapanewon kini terancam kekeringan serius pada puncak musim kemarau tahun ini. Bahkan di beberapa wilayah, air bersih sudah menjadi barang langka. Warga harus antre berjam-jam, menunggu truk tangki datang, dan sering kali hanya membawa pulang beberapa jerigen kecil untuk keluarga mereka.
Di tengah keterbatasan, muncul kisah yang menyentuh hati. Seorang bapak paruh baya berkata kepada tim Insani, “Di sini ada istilah, Mas, kambing makan cempe”. Artinya, anak kambing dijual untuk beli pakan induknya, supaya bisa tetap hidup dan beranak lagi. Ungkapan itu menjadi simbol perjuangan: bagaimana masyarakat terpaksa mengorbankan harapan kecil demi bertahan hidup hari ini.
Setiap tetes air di sini punya nilai yang tak ternilai. Ibu-ibu menempuh perjalanan jauh ke dusun tetangga membawa ember kosong di bawah terik matahari. Anak-anak menunggu di rumah menahan haus, berharap ibunya pulang membawa air bersih untuk diminum dan mandi. Sementara ladang-ladang terbengkalai dan ternak kehilangan rumput untuk digembalakan.
Kekeringan di Gunungkidul bukan hal baru, tapi tahun ini terasa lebih berat. Embung kering lebih cepat, dan sumber air alami mulai hilang. Beberapa keluarga harus membeli air dari swasta dengan harga yang lebih mahal dari penghasilan harian mereka. Di titik inilah, harapan semakin tipis jika tidak ada uluran tangan dari kita.
Tim Insani Indonesia yang turun langsung ke lapangan menyaksikan sendiri perjuangan warga. Dari rumah ke rumah, mereka menampung sisa air hujan seadanya, menutup ember dengan kain lusuh agar tidak menguap. Namun mereka masih tersenyum, menyimpan harapan akan datangnya pertolongan.
Sekaranglah saatnya kita hadir. Melalui Program Air Nusantara, Insani Indonesia berikhtiar menyalurkan air bersih ke dusun-dusun terdampak, termasuk wilayah Ponjong yang kini paling kekeringan. Setiap donasi akan diwujudkan menjadi tangki air bersih, pompa sumur, atau sistem penampungan air hujan yang bermanfaat jangka panjang.
Satu donasi darimu hari ini bisa menjadi seteguk harapan bagi mereka yang sudah terlalu lama menunggu. Mari kita buktikan bahwa kemanusiaan tidak pernah kering. Bahwa ketika air sulit didapat, kasih sayang dari sesama masih bisa mengalir deras.
Bersama, mari kita kirimkan air, kirimkan kehidupan, dan kirimkan harapan untuk Gunungkidul.


